Minggu, 06 Januari 2013

I Still Remember How We Met



Aku masih ingat bagaimana kita bertemu. Sms yang kamu kirim membuatku meresponnya.
Aku ingat saat aku SMP kelas 7 (masih kecil memang). Di sore hari saat aku dalam perjalanan pulang menuju rumah bersama teman-teman antar-jemputku.

 Ada sms yang datang di HP ku.
“siapa ini? Kenapa telepon?”
Lalu aku menjawab,
 “siapa? Kamu yang siapa? Aku nggak pernah telepon kamu.”
“beneran tadi telepon kok. Aku Ulil.”
“Ulil siapa ya? Anak mana?”
Dan dia menjawab,
“13”

Rasa penasaran mendorongku untuk bertanya kepada teman anjem ku yang laki-laki,
“eh kamu kenal Ulil? Siapa itu?”
Temanku pun menjawab,
“ hei itu teman sekelasku! Kenapa?”
“dia sms aku nih.”

Tanpa dikomando hebohlah teman-temanku itu. Padahal aku dan Ulil sendiri tidak saling mengenal.
Sorenya kami saling berkirim pesan, standar. Karena aku dan dia tidak saling tahu-menahu.
Esoknya pada saat istirahat, teman anjemku berjalan menghampiriku yang sedang membeli makanan di kantin.
“Ini lho yang namanya Ulil.” Temanku berujar
Aku dan Ulil hanya tersenyum karena gugup. Dia anak yang sedikit gemuk, berkulit putih, dan punya pipi yang tembem. Entahlah, kesan pertama yang baik

Mulai malam itu kami sering berkirim kabar, lebih tepatnya berkomunikasi. Kurasa aku sedikit menyukainya. Dia terlihat baik. 


Dia datang disaat aku menyukai seseorang yang lain, sedikit mengubah haluan pikiran memang..

Entah sudah berapa lama kami saling mengirim sms, hingga kami terasa dekat, disaat itulah aku menyadari mulai menyukainya. Saat teman-teman menyoraki aku dan Ulil, ada rasa yang tidak bisa diungkapkan, aku tidak tau apa itu.
Diapun terlihat malu saat bertemu denganku. Dalam sms kami hanya tertawa melihat teman-teman kami yang heboh sendiri. Walaupun kami tidak pernah berbicara, ya itu karena keadaan, banyak yang memata-matai kami.
Setidaknya setahun sudah kami berkirim sms, disoraki, dan masih banyak lagi. Namun aku tidak berpikir yang aneh. Iya memang benar aku menyukainya. Namun berteman jalan yang mungkin terbaik saat itu
Sampai kelas 8 pun kami masih berkomunikasi dengan intens, Saat dia berulang tahun, aku adalah orang pertama yang memberi dia ucapan selamat ulang tahun. Begitu pula dia disaat saat aku berulang tahun, walaupun bukan orang yang pertama kali mengucapkan, aku sungguh menghargainya.

Disaat aku mulai jenuh dengan semua itu, aku mengirim pesan padanya
“Ulil, apa kita masih bisa berteman sampai kapanpun”
Dia membalas,
‘iyalah, kenapa enggak? Kamu temanku yang baik.”

Lega mendengarnya, aku “mendapat pengakuan” darinya.

Teman SD-ku yang sekelas dengan Ulil, bernama Dini tiba-tiba mengirimiku sms,
“kamu suka sama Ulil?”
“entahlah, mungkin iya. Kenapa?”
“Dia tanya sama aku, Al. begini : apa Alya suka sama aku? Soalnya dia perhatian banget sama aku”

Apa mungkin perhatianku berlebihan atau tidak, aku tidak pernah berkata sesuatu yang lazim dikatakan bilamana orang yang berpacaran.  Ulil sepertinya mulai menyadari bahwa aku menyukainya. Tapi tidak ada yang berubah darinya.
Dan entah mulai kapan ia bertanya kepadaku tentang anak yang bernama Nila. Yang sejatinya adalah temanku SD dan juga teman kami yang berbeda kelas. Ulil tahu bahwa kami dulunya satu sekolah. Ulil mulai bertanya tentang Nila, kebiasaanya, sifatnya , dan bagaimana dia berkomunikasi. Aku menjelaskannya, namun tidak detail. Saat aku bertanya kenapa, dia menjawab bahwa temannya menyukai Nila, dan dia disuruh bertanya padaku.
Hingga pada akhirnya Ulil menanyakan nomor HP Nila padaku. Kaget sekali rasanya. Aku mencoba bertanya, namun dia mencoba berkelit. Sepertinya ada yang aneh.

Ulil suka sama Nila? Masa’ sih? Terus aku dijadikan alat buat mereka kenalan dan pedekate?” batinku.

Nila tahu aku menyukai Ulil. Tapi seakan acuh. Mungkin. Dan entah juga sejak kapan, Nila dan Ulil saling berkirim sms. Sejak itu pula dia sedikit ‘melupakan’ aku. Keadaan masih sama hingga kami lulus. Mereka masih berkirim pesan dan saling menyukai, tapi entah tidak menjalin hubungan



Aku sungguh masih mengingat tiap detil cara kita bertemu. Bagaimana kita melempar senyum dan membiarkan dunia berkoar. Rasa sesal tak pernah hadir dalam benakku. Dan aku mengingatmu hingga kini, sungguh kau adalah sesuatu yang indah, bagaimana bisa aku lupakan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar